Nartosabdo & Gendhing Banyumasan

Ricik-ricik Banyumasan dan Perkembangannya

Ricik-ricik merupakan salah satu jenis gending tradisi Banyumas yang sangat populer baik di dalam maupun di luar karesidenan Banyumas.  Popularitas sajian gending-gending Banyumasan tidak terlepas dari keterlibatan para  pendukung baik  seniman ataupun masyarakatnya. Ricik-ricik sebagai salah satu gending yang peringkat kepupulerannya di atas gending-gending tradisi Banyumas yang lain, tidak lain karena adanya beberapa unsur yang terkandung dalam garap khas yang ada di dalamnya.   Hal yang menarik dari sajian gending Ricik-ricik adalah mempunyai ragam garap yang multi kultur, dimana unsur-unsur vokabuler garap gaya di luar locus Banyumas telah menjadi sajian umum baik yang dilakukan oleh pelaku seniman Banyumas maupun di luar Banyumas.  Dari keseluruhan garap yang tersaji pada gending Ricik-ricik, salah satu unsur yang telah banyak dilirik oleh beberapa seniman adalah vokal.  Beberapa upaya penggarapan vokal dengan mencoba merubah menurut selera si komponis telah menjadi wacana kearah kepopuleran gending tersebut.  Memang tidak salah.  Namun apakah sudah disadari bahwa dari akibat kekurang hati-hatian dalam melakukan perubahan bakal terjadi sebuah dilematik ? Sebagian fihak tertarik akan suatu kebaruan kalaupun sadar betul bahwa terdapat penurunan nilai esensi yang sangat signifikan.  Tetapi banyak juga fihak yang merasa tidak rela dengan terkikisnya secara perlahan-lahan atas nilai estetik etnik yang menjadi semakin kabur.

Jika kita terlatih untuk menyimak secara cermat dengan pemahaman tentang garap gending pada setiap gaya yang paling esensial, tentu merasakan perbedaan yang paling berarti bagi kekhasan yang dimiliki oleh gending Ricik-ricik, terutama dengan perbandingan gending Ricik-ricik yang berkembang dewasa ini.  Sebagai contoh misalnya, pada awal sajian vokal sindenan tunggal dalam irama satu (lancar) sindenan yang disajikan disamping dengan vokal tunggal, ia masih menggunakan teks (cakepan) gawan (bawaan) gending Ricik-ricik yang tidak terdapat dalam sajian gending lain.  Cakepan Ricik rinjang ranjang arang penyawuk walang – Pangling wonge nora pangling sewarane, adalah cakepan dan cengkok sindenan yang paling penting di dalam sajian gending Ricik-ricik.  Karena kesatuan cengkok (kalimat lagu) dengan teks serta persenyawaan dari keseluruhan komposisi musikalnya membawa nuansa yang khas gaya Banyumas ke dalam karakter sajian gending Ricik-ricik.  Begitu pula dengan pola serta sekaran kendangan yang mengimajimanasikan pada gerak tari lengger yang bernuansa kerakyatan Banyumas, tidak bisa ditipu lagi dengan bunyi sekarang yang lain terutama dengan bentuk seni rakyat yang sejenis.

Gending Banyumas secara umum telah banyak mengalami perubahan garap.  Perubahan garap yang telah terjadi pada gending Ricik-ricik merupakan hasil rekayasa seniman atas  imajinasi secara individu terhadap sesuatu yang telah ada, merasa perlu untuk disempurnakan lebih lanjut dengan daya tafsir yang berbeda. Atas dasar pertimbangan tersebut, muncul beberapa hasil aransmen gending Ricik-ricik yang sudah dinikmati oleh masyarakat di luar wilayah Banyumas, dengan sajian yang jauh berbeda dari keasliannya. Dengan demikian masyarakat menentukan pilihannya mana yang mudah ditiru dan paling populer menurut zamannya. Sebuah kenyataan dalam dunia tradisi bahwa ketika ada fenomena yang menjadi poluler pada suatu perubahan akan menjadi tolok ukur yang menurutnya dianggap sesuatu yang paling baik.  Ki Nartosabdo misalnya..,  beliau adalah seorang komponis yang mengawali perubahan terhadap garap gending Ricik-ricik Banyumasan. Beliau adalah seorang seniman pengrawit dan dalang wayang puwa tradisi yang  berada di wilayah gaya Surakarta, ia mempunyai berbagai keakhlian dan keberanian untuk membrontak, mendobrak garap kesenian tradisi baik karawitan maupun wayang purwa. Pada awal tahun 80-an gending Ricik-ricik mulai merambah ke luar wilayah karsidenan Banyumas, adalah tidak lain karena adanya faktor peran Nartosabdo di dalam mempublikasikan melalui medium seni pertunjukan pakeliran wayang purwa. Pada saat itu beliau mencoba menawarkan garapan baru dengan mengaransmen gending Ricik-ricik menurut pendekatan berbagai ragam garap terutama gaya Surakarta.  Hal tersebut terbukti pada bagaian garap vokal dan kendang, beliau banyak mengaplikasikan vokabuler-vokabuler garap instrumen gamelan jawa yang lazim disajiakan dalam sajian gending-gending gaya Surakarta.

Jika kita benar-benar memehami garap gending dari suatu etnik tertentu dan diakui keabsahannya sebagai gaya yang khas dari sajian gending tradisi, rasanya sangat disayangkan ketika tiba-tiba muncul garapan baru yang kurang mempertimbangkan dampak perkembangannya. Karena banyaknya kekayaan ragam garap dalam setiap gaya menjadi hilang dan tidak dikenal lagi oleh masyarakat secara umum. Ki Nartosabdo yang mempunyai basic karawitan gaya Surakarta memang kreatif, telah banyak merubah garap gending-gending Banyumas dan juga gaya lain, Sehingga banyak mempengaruhi kelompok karawitan lain tentang pemahaman garap  ke arah yang sebenarnya kurang apdol.

Perlu diketahui secara mendalam bahwa kekuatan garap pada masing-masing gaya adalah meliputi berbagai unsur, baik yang tersaji lewat instrumen maupun vokal.  Unsur-unsur penting yang perlu difahami sebagai wacana pengetahuan garap yang membedakan setiap gaya adalah; bisa bersifat teks (cakepan), pola kendangan, tekhnik tabuhan seperti instrumen bonang  dan juga cengkok sindenan.  Ketika semua ini telah difahami secara sadar sebagai faktor penentu garap setiap gaya, maka tidak akan terjadi pergeseran secara total yang akhirnya mengurangi nilai estetik yang dianggap sebagai esensial dari sajian sebuah gending tradisi.

Namun demikian ibarat nasi sudah menjadi bubur, gending Ricik-ricik sudah populer ke seluruh wilayah jawa tengah dengan mengkiblat dari versi Nartosabdo.  Apakah yang menarik dari gubahan Nartosabdo terhadap gending Ricik-ricik sehingga lebih diminati oleh sebagian para pengrawit di jawa tengah? ….. jawabnya belum jelas. Ada yang mencoba menduga tentang  kemungkinan pengaruh versi Nartosabdo yakni tentang penyederhanaan sajian sehingga menjadi mudah ditirukan oleh banyak orang.  Itu mungkin saja.,  Karena memang secara jelas bahwa perangkat garap yang ditawarkan oleh Nartosabdo adalah unsur-unsur garap karawitan gaya surakarta yang secara umum telah fahami dan dikuasai oleh sebagian pengrawit tradisi baik yang ada di luar maupun di dalam wilayah karesidenan Banyumas itu sendiri.  Contoh kecil tentang penyederhanaan garap pada instrumen kendang misalnya.  Bagaimana beliau banyak menerapkan pola-pola kendangan pematut dimana ia ambil dari vokabuler cengkok kendangan tradisi gaya Surakarta kedalam sajian gending Ricik-ricik irama dados, sehingga oleh pengrawit yang faham betul tentang keaslian cengkok kendangan dari mana ia berada, akan segera menyatakan bahwa itu bukan garap khas gaya Banyumasan.  Hemat kata dengan disederhanakannya garap kendangan melalui sekaran pematut mengakibatkan pemiskinan ragam gaya yang semestinya menjadi kekayaan garap pada setiap musik tradisi. Contoh lain yang juga menjadikan kekacauan pemahaman tentang keragaman adalah penggarapan vokal.  Kalau di atas tadi dijelaskan secara gamblang apa yang paling prinsip dalam sajian gending adalah sesuatu yang khas dengan kekuatan antara cengkok sindenan dan teks yang diambil dari bahasa-bahasa keseharian masyarakat Banyumas, maka ketika Nartosabdo merubah cengkok dan teks dari bahasa di luar Banyumas tentu menjadi problem musikal.  Karena materi yang penggarapan yang menghubungkan antara sajian musikal dan budayanya menjadi tidak menyatu.    Garap vokal dengan disajikan secara koor juga menjadi keasingan bagi masyarakat banyumas.  Pesinden Banyumas tidak mengenal sajian vokal koor.  Vokal sindenan banyumas tidak pernah dinotasikan, sehingga tidak pernah ada keseragaman dan kerapian dalam sajian gending-gending tradisi Banyumas pada masa kejayaannya.

Perubahan yang telah terjadi dari sajian vokal (sindenan) atas gubahan Nartosabdo adalah memasukkan sajian vokal koor pada irama lancar dengan cakepan Ricik kumricik grimise wis teka sedela maning dan sebagainya. Adalah model-model garap yang sangat rapi serta sudah lazim diterapkan dalam vokal gerong pada gending-gending gaya Surakarta.  Sehingga tidak mustahil ketika kemudian dengan cepat diikuti oleh banyak vokalis dalam komunitas 
pengrawit di luar wilayah Banyumas.

Perubahan mesti terjadi ketika tuntutan zaman menghendakinya.  Fenomena tersebut di atas adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.   Nartosabdo adalah salah satu seniman yang dianggap paling cepat merespon kondisi zaman.  Awalan yang berhasil bagai dunia perkembangan musik tradisi, walaupun telah terjadi pro dan kontra. Artinya setelah populernya sajian gending Ricik-ricik versi Nartosabdo masuk ke wilayah pengrawit Banyumas, muncul garap lain versi Rasito seorang seniman pengrawit setingkat empu Banyumas dengan bentuk garap yang sejenis seperti meniru memasukannya vokal koor yang diambil dari bahasa banyumas, dan garap slawatan versi S. Bono.

Dampak perubahan

Ketika imbas dari perubahan yang ditawarkan oleh Nartosabdo merambah ke dunia akademik tentu akan menjadi lain.  Karena dunia akademik adalah sebagai lembaga yang salah satunya mempunyai visi kearah pencerdasan pikir dan kepekaan rasa.  Sehingga akan disikapi secara hati-hati dengan pertimbangan berbagai aspek yang salah satunya tidak mebodohkan masyarakat serta memiskinkan ragam garap yang menjadi kekayaan gaya musik di seluruh pelosok tanah air.

Sebagai usaha pemunculan kembali dalam bentuk lain terhadap sajian gending Ricik-ricik, telah dilakukan Darno salah seorang pengajar di STSI Surakarta jurusan karawitan.   Upaya yang dilakukan olehnya merupakan respon dari kekacauan yang terjadi pada garap sajian gending-gending Banyumasan secara umum dewasa ini.   Salah satu akibat dari kekacauan yang lebih parah terjadi pada sajian gending-gending Banyumasan adalah pada gending Ricik-ricik.  Bentuk sajian ini akan dicoba untuk lebih memfokuskan pada garap vokal dan perangkat gamelan Calung.  Dengan pertimbangan bahwa vokal-vokal yang telah diaransmen oleh beberapa seniman terdahulu terlihat belum mampu mengoptimalkan seluruh wilayah nada, sehingga tidak tampak secara jelas teks-teks apa yang disampaikan.  Cara lain yang dilakukan untuk mengoptimalkan sajian vokal agar tersaji secara jelas yakni penyusun menncoba menggunakan pendekatan garap yang telah lazim diterapkan oleh para aranger ketika membuat vokal paduan suara.  Salah satu dari kelebihan cara tersebut adalah adanya pemisahan jenis-jenis wilayah ambitus manusia yang terbagi menjadi suara tenor, sopran dan bas, sehingga tidak akan lagi terjadi pemaksaan diluar kemampuan masing-masing vokalis.

Pertimbangan lain yang menjadikan pijakan karya ini adalah selain memanfaatkan gamelan calung sebagai medium utama calung juga sebagai salah satu perengkat gamelan Banyumas yang paling populer.  Gamelan calung lebih disikapi sebagi medium bunyi, kalaupun dalam penggarapannya akan terlihat secara jelas gaya Banyumas tidak lain semata-mata merupakan refleksi penggarap yang dilatar belakangi dari kemampuannya dalam menyajikan gending-gending tardisi gaya Banyumas.  Karya ini dibuat pertama kali untuk mengikuti festival paduan suara se Indonesia di Uneversitas Parahyangan Bandung tahun 2002 dan festival paduan suara sedunia di Landratsamt Miltenberg Jerman bulan juli tahun 2002.

Ronggeng Gunung

RONGGENG GUNUNG

Oleh: Darno Kartawi


Ronggeng Masa lalu

Latar belakang tentang sejarah ronggeng masa lalu merupakan cerita penting untuk menjembatani saya berpikir tentang kelahiran karya baru Ronggeng Gunung. Ronggeng (penari ronggeng) sebuah kisah klasik wacana kaum minoritas marginal yang belum mengenal hasrat untuk mengenyam modernisasi pendidikan. Hanya depresi sistemik yang menjadi sebuah erotisme vulgar bahwa ronggeng pernah menjadi bagian kultur masyarakat romantisme dalam sejarah”.

Diceritakan oleh Romo Mangun dalam bukunya yang berjudul Tumbal, ketika seorang gadis ayu penari ronggeng sedang menari–anggun sekaligus sakral–di dalam sebuah lubang besar, tiba-tiba kuli-kuli bangunan yang menonton dari atas, menimpukinya dengan batu-batu padas kasar. Akhirnya tubuh mungil gadis penari ronggeng naas tersebut terkubur dalam sebuah kematian yang sangat tragis, di tempat itulah yang di kemudian hari menjadi pondasi jembatan rel kereta api yang melintasi Kali Progo.

Nah, gejala dan watak yang muncul di tengah masyarakat kita saat ini, tidak jauh beda dengan gejala dan watak kekejaman di masa lalu. Kegetiran dan keprihatinan yang menggejala di mana-mana tidak terlepas dari semakin tumbuhnya hasrat ingin berkuasa, tamak dan menguasai mereka yang dianggap lemah dengan beragam cara, termasuk mengorbankan kelangsungan hidup sesama manusia. Tumbal sudah tidak lagi dimaknai dalam ritual-ritual dan mitos, tetapi diagendakan dalam regulasi-regulasi yang sangat menindas dan tidak adil.

Sebuah Konsep Interpretasi Ronggeng Gunung


Lengger atau biasa juga disebut ronggeng adalah nama dari jenis kesenian rakyat masyarakat Banyumas yang lebih dikenal oleh masyarakat umum dengan nama lengger. Nama renggong hanya popular dikalangan masyarakat yang berada di wilayah pinggiran atau perbatasan antara Sunda dan Banyumas. Renggong adalah wanita cantik yang pandai menyanyi dan menari menggunakan lagu /syair serta gerak yang khas.  Warna serta gaya yang tumbuh dalam kesenian ini merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat perbatasan Banyumas dan Sunda.

Tari Renggong gunung merupakan bentuk inovasi untuk mengangkat sumber kesenian renggong yang telah ada menjadi bentuk kemasan yang lebih bersifat dinamis.  Bentuk-bentuk sajian gerak, tembang, serta alat musik calung digarap secara pariatif dengan lebih menekankan pada nilai-nilai ekspresi yang menyeimbangkan antara spirit gaya Banyumas dan sunda.  Rasa gayeng adalah tujuan yang dicapai dalam tari renggong gunung.

Profil Pring Sedhapur

Profil Pring Sedhapur


Latar Belakang

Banyumas sebagai wilayah budaya di pesisir selatan Jawa Tengah memiliki peran srategis dalam penguatan kebudayaan local. Salah satunya ditandai dengan karawitan gagrag Banyumasan yang memiliki keunikan sebagai penanda identitas budaya masyarakat Banyumas.

Ironisnya, peran strategi sebagai penanda identitas budaya Banyumas ini terkendala oleh pergeseran apresiasi masyarakat Banyumas terhadap kesenian miliknya sendiri. Terutama dikalangan anak-anak muda, mereka lebih tertarik dengan kebudayaan yang berasal dari luar Banyumas. Situasi ini semakin dilemahkan dengan kuatnya pengaruh kebudayaan global yang tidak disikapi secara kritis.

Untuk itu perlu ada upaya pengatasan masalah yang berupa fasilitasi menguatkan kembali karawitan gagrag Banyumas agar berdaya dan merasa dimiliki oleh masyarakatnya.

Profil

Pring Sedhapur adalah sekelompok seniman di Surakarta, yang anggotannya merupakan pecinta kesenian gagrag Banyumas. Sebagian besar dari kelompok ini adalah keluarga sivitas Akademika Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kelompok Pring Sedhapur berdiri pada tahun 2000, yang gerak aktifitasnya berfokus pada kegiatan pelatihan dan penggalian seni tradisi Banyumas. Calung, lengger dan karawitan tradisi gagrag Banyumas dicoba digali, dikemas dengan melalui sentuhan-sentuhan inovasi untuk mengangkat nuansa kekhasan serta karakteristik gagrag Banyumas agar mampu menampilkan sebuah sajian karya baru menjadi lebih bersifat elegan

Tujuan

Tujuan atas berdirinya kelompok ini adalah ingin memberikan sumbangsihnya melalui beberapa langkah inovasi terhadap kesenian tradisi Banyumas yang keberadaannya dianggap telah lesu.  Pergerakan kelompok Pring Sedhapur adalah berorientasi pada laju perkembangan jaman yang semakin mengglobal, maka tidak ada cara lain kecuali bertekad untuk mencetuskan ide-ide kreatifnya secara nyata untuk mewujudkan hasil karya-karya baru agar dapat diterima kembali kehadirannya pada semua khalayak.

Langkah demikian dimaksudkan untuk mewujudkan kegairahan berperilaku budaya yang menjadi spirit dalam kehidupan sosial masyarakat yang bersangkutan.

Sekretariat Pring Sedhapur

Di Mondokan, Rt.02/28 Jebres Surakarta

Jln. Kolonel Sutarto 106 E

Kode Pos 57126

HP: 081804575104

Email: darnokartawi@yahoo.co.id

Pusat kegiatan pelatihan

Di Jurusan Karawitan, ISI Surakarta

Jln. Kolonel Sutarto no 19 Kentingan, Jebres, Surakarta

Susunan Organisasi

Ketua                         : Darno  Kartawi

Sekretaris                 : Eko Kunto Wibowo

Bendahara                : Muriah Budiarti

Tenaga Akhli            : Darno Kartawi (bidang musik)

: Tri Widi Astuti, Kartika Rini, Riyanto

Berikut nama-nama anggota kelompok Pring Sedhapur ini adalah:

  1. Darno Kartawi, S.Sen, M.Sn                                   11.  Fitriyani
  2. Kuwat, S.Kar, M.Hum                                               12.  Gambuh Widya Laras
  3. Muriah Budiarti, S.Sn, M.Sn                                   13.  Widya Ayu Kusuma W
  4. Bagong Pujiono, S.Sn, M.Sn                                   14.  Riyanto, S.Sn.
  5. Hadi Budiono, S.Kar, M.Sn                                      15.  Widianti
  6. Rumpoko Setyo Aji, S.Sn                                         16. Kukuh Widiasmara, S.Sen
  7. Eko Kunto Wibowo, S.Sen                                      17. Luh Hera Sukmawati
  8. Sigit Purwanto                                                          18. Tatang Hartono, S.Sen
  9. Sigit Prasetya                                                           19. Kartika Rini
  10. Rudi Triyatmaka, S.Sn                                             20. Agus Prastya
  11. Riyanto, S.Sn
  12. Sri Harto, S.Kar, M.Sn
  13. Rudi Triatmaka, S.Sn
  14. Tatang Hartono, S.Sn

Karya-karya Kelompok Pring Sedhapur

  1. Banjaran Calung                                          12.  Banceran
  2. Rondha Malam                                             13. Wayang Calung
  3. Meracik Ricik                                               14. Wayang Golek Calung
  4. Nylinguk                                                         15. Senggol-senggolan
  5. Pantura                                                          16. Cong Lung
  6. Marungan                                                      17. Sekar Gadhung
  7. Evolusi Bambu                                              18. Eling
  8. Lobong Ilang                                                 19. Eling-eling
  9. Jengglong                                                      20. Tengoro
  10. Renggong Yer
  11. Renggong Gunung

Properti yang dibutuhkan

  1. Dua set gamelan calung banyumasan
  2. Sound system dengan jumlah mic 15 line
  3. Trnasit kontingen
  4. Lampu pentas
  5. Dan properti setting panggung berupa janur, daun pring dll

Jalungmas Cilacap

SEJARAH JALUNGMAS CILACAP

SEBAGAI BENTUK KARYA BARU PERPADUAN DUA GAYA KESENIAN

BANYUMASAN DAN SUNDA

Oleh; Darno, S.Sen.,M.Sn

Pengantar

Jungmas adalah nama dari salah satu jenis seni pertunjukan yang ada di Kabupaten Cilacap. Jenis kesenian ini dikatagorikan sebagai bentuk kreasi baru, yang disusun melalui perpaduan antara tari dan musik tradisional yang ada di dua wilayah yakni Jawa Tengah (Cilacap) dan Sunda. Jalungmas merupakan akronim dari istilah kata jaipong calung Banyumas. Istilah ini diperkirakan lahir sekitar tahun 80-an, disusun oleh beberapa seniman Cilacap yang pada saat tersebut sedang melakukan pelatihan penggalian seni tradisional lokal sebagai sumber penciptaan karya tari baru. Tari jalungmas dicipta untuk memenuhi kebutuhan estetika tari lengger Banyumas dengan gamelan calung sebagai bentuk rekaan yang mamadukan dua genre kesenian Lengger Calung (Banyumas) dan Jaipong (Sunda). Tari Jalungmas lebih menitik beratkan pada dua aspek penggarapan, yakni gerak tari yang mengadopsi dari gaya tari jaipong dan gendhing tradisional gaya Banyumas yang disajikan dengan idiom gamelan calung Banyumas.

Kesenian Lengger Calung adalah penyatuan gerak tari, tembang dan gendhing tradisi gaya Banyumas yang diwujudan ke dalam karya seni pertunjukan dengan memiliki spesifikasi bentuk garap yang khas berbeda dengan kesenian yang sejenis seperti lengger, ronggeng Jawa Barat dan yang lainnya. Perbedaan yang dimaksud adalah pada aspek-aspek penggarapannya meliputi gerak tari, sajian musikalitas gamelan, lagu (tembang), dinamika serta struktur sajiannya.

Perkembangan Kesenian Lengger Calung Banyumas

Dewasa ini kesenian Lengger Calung Banyumas telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan lengger Calung tidak saja berpusat pada aspek garap yang bersifat local, namun dalam pertumbuhannya telah merambah pada wilayah genre jenis kesenian lain yang dimungkinkan terjadi atas pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan selera baik penikmat maupun pelaku seni itu sendiri. Pertimbangan atas dasar kebutuhan penikmat atau masyarakat dapat mempengaruhi bentuk kesenian Lengger Calung bergeser menjadi bentuk yang berbeda dari sifat yang khas menjadi warna “baru”. Namun demikian jika upaya tersebut tidak didasari atas pertimbangan niali estetik lokal (gaya genre tertentu), hal ini justeru dapat menjadi bumerang bagi sebuah identitas kesenian daerah termasuk dalam hal ini Lengger Calung Banyumasan.

Upaya perwujudan baru dari sebuah perkembangan seni tradisi jika dilakukan dengan mengacu pada pertimbangan nilai estetika serta kearifan lokal dapat dimungkinkan karya seni tersebut mampu abadi hidup di tengah-tengah masyarakatnya. Kemungkinan tersebut akan bisa dibuktikan ketika daya spirit serta karakter dari karya yang dicipta dapat berkomunikasi secara alami dengan lingkungan pendukungnya. Beberapa aspek penting sebagai prinsip sebuah penciptaan karya seni jika benar-benar telah dipenuhi estetikanya tanpa ada rekayasa yang dipaksakan, pastilah karya tersebut akan mampu hidup secara harmonis ditengah-tengah masyarakatya. Jalungmas adalah bagian dari proses pertumbuhan seni tradisi Banyumas, yang diwujudkan secara disengaja sebagai upaya untuk mendinamisasikan serta melestarikan kesenian tradisional Banyumas. Ketika proses penciptaan tari Jalungmas yang mengacu dari kesenian Lengger, maka hal-hal yang perlu digali sebagai materi dasarnya adalah aspek-aspek baku yang melekat pada kesenian Lengger Calung seperti, gerak, tembang, gendhing, serta dinamikanya. Namun jika aspek-aspek dasar lebih ditekankan (dipertebal) dari aspek genre kesenian gaya lain, maka dimungkinkan kesenian Jalungmas tidak akan mampu tumbuh berkembang di tengah-tengah masyarakat pendukungnya.

Sebelum membahas lebih jauh tentang kesenian Jalungmas di Kabupaten Cilacap, terlebih dahulu kita ajak untuk menengok jenis kesenian tradisional yang ada diwilayah sunda (Jawa Barat) yakni seni Jaipong. Jaipong atau sering disebut dengan istilah Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan[1].

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.

Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Lengger) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Lengger). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Lenggeran dan Pencak Silat.

Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.

Perkembangan Jaipong

Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari “Daun Pulus Keser Bojong” dan “Rendeng Bojong” yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.

Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya “kaleran” (utara).

Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).

Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.

Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni

Setelah mencermati kedua genre kesenian tradisional Lengger Calung Jawa Tengah (Banyumas) dan Jaipong Sunda (Jawa Barat) yang dipaparkan di atas, maka jika kita kembali lagi ke topik awal kesenian Jalungmas yang dinyatakan sebagai kesenian khas Kabupaten Cilacap, tentu menjadi sangat menarik untuk dibahas lebih dalam, lewat forum diskusi yang lebih serius. Ada dua permasalahan dalam kasus ini yakni:

1. Mengapa Jalungmas diakui sebagai kesenian khas Kabupaten Cilacap?

2. Bagaimana strategi penciptaan seni Jalungmas dibentuk oleh seniman Cilacap?

Pembahasan

Kesenian daerah sangat terikat pada bagimana pendukungnya menempatkan kesenian tersebut pada posisi tertentu sehingga kondisi / karakter pendukung menentukan bagemana perkembangan kesenian daerah. Konteks sosial budaya dan ekonomi politik merupakan faktor yang menentukan bagemana pendukungnya melihat kesenian lokal dan cara memperlakukannya dalam berbagai proses komunikasi. Karakter manusia yang berorientasi global, misalnya mempengaruhi bagaimana ia melihat dan memperlakukan yang lokal khususnya dalam hubungannya dengan yang global. Lokalisasi itu sendiri itu memiliki karakter yang berlainan dengan globalitas yang membutuhkan konversi dalam interaksi satu dengan yang lain, yaitu untuk pembentukan satu sistem yang cenderung global.

Perubahan konteks globalisasi karena selain menjadi faktor penting dalam artikulasi dan perubahan lokalitas (dalam hal ini kesenian tradisional gaya Banyumas), juga menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sesuatu yang lokal. Apakah yang lokal dapat survive dalam arus global, apakah ada pembagian ruang, yang mana yang diisi oleh globalitas dan mana yang lokalitas; dan apakah terjadi penyasuaian lokalitas dalam interaksinya dengan globalitas. Dalam kaitan ini akan dilihat interaksi kesenian daerah dan masyarakatnya. Untuk itu, sejumlah domain kahidupan sehari-hari seperti kegiatan dalam rumah tangga tempat kerja, pasar, sekolah, kegiatan upacara, orang punya hajat telah dipilih sebagai acuan pembahasan.

Jalungmas sebagai topik bahasan dalam diskusi ini, apakah dewasa ini Jalungmas telah terlihat mampu memposisikan dirinya sebagai jenis kesenian yang sudah diakui dan dapat berinteraksi dengan masyarakatnya? Apakah Jalungmas juga telah mempresentasikan sifat dan karakteristik dari nilai-nilai budaya lokal masyarakat Cilacap? Dan apakah penting hal ini bagi masyarakat Cilacap? Lepas dari persoalan penting atau tidaknya konsep tersebut, setidaknya sebagai seniman yang berniat untuk mencitrakan sebuah identitas budaya lewat karya baru, seyogyanya seorang kreator terlebih dahulu mengerti prinsip-prinsip dasar sebuah penciptaan karya. Prinsip dasar yang dimaksud di sini adalah sebuah konsep berpikir untuk mendasari dirinya sebagai seorang kreator seni yang memiliki tingkat kepekaan, intelektual serta kepedulian terhadap lingkungan di sekitarnya. Seorang kreator seni adalah pekerja seni yang beraktivitas pada wilayah ruang yang sangat abstrak. Maka jika tidak memiliki tingkat imajinasi yang tinggi terhadap nilai-nilai seni terutama yang bersifat lokal, dapat dipastikan temuan-temuan ciptaannya tidak akan memiliki kekuatan apa-apa terhadap lingkungannya.

Berbicara tentang kreator adalah juga menyangkut persoalan kreativitas. Kreativitas bagi seorang kreator seni adalah bekerja untuk mewujudkan ide dan gagasannya ke dalam karya baru melalui cara kerja yang sistematik yaitu meramu bahan-bahan yang sudah ada menjadi wujud baru melalui konsep kerja yang dinamakan garap. Garap yang dimaksud pada pembahasan ini adalah sikap dan atau cara kerja seorang kreator seni di dalam mengolah bahan baku menjadi karya baru yang diwujudkan ke dalam karya seni yang dalam bahasan ini dinamakan Jalungmas. Aspek-aspek yang diperhatikan oleh kreator adalah sumber yang jelas, yakni berupa materi baku seperti gerak tari lengger, gendhing, tembang dan idiom gamelan Calung. Ketika seorang kreator telah benar-benar cermat melihat secara esensial yang ada dalam aspek-aspek tersebut, maka langkah berikutnya adalah sikap kerja yaitu yang dinamakan ”meng-garap”.

Berikut di bawah ini adalah salah satu contoh bagaimana seorang kreator menggarap gendhing tradisi gaya Banyumasan dengan prinsip-prinsipnya sebagai langkah untuk menemukan bentuk karya musik baru Jalungmas.

2. Garap Gendhing

Pembicaraan mengenai garap gendhing paling tidak akan bersinggungan dengan beberapa unsur mulai dari laras, pathet, irama dan laya dalam perjalanan sajian gendhing dari awal sampai akhir (buka hingga suwuk). Irama sebagaimana pendapat Martopangrawit adalah urusan pelebaran dan penyempitan gatra. Laya atau tempo adalah cepat lambatnya perjalanan sajian gendhing yang ditentukan oleh matra pada tiap-tiap birama.

Gendhing Blendrong kulon pada umumnya disajikan dalam laras slendro pathet sanga. Irama yang digunakan dua macam yaitu irama I (lancar) dan II (dados). Dalam sajian gendhing Blendrong kulon biasanya digarap dengan menggunakan dua macam laya, yaitu laya tamban dan laya seseg. Laya cepat diterapkan pada sajian bagian awal serta bagian laya lambat digunakan pada bagian akhir dengan ditandai oleh permainan beberapa motif/pola kendhang jaipongan yang dipacu oleh melodi vokal, gerak tari srta struktur balungan gendhing. Pada sajian bagian akhir gendhing Blendrong kulon biasanya lebih mengutamakan interaksi yang bersifat spontan antara pengendhang dengan pembalung, sehingga bentuk-bentuk garap aksen atau dalam bahasa kalangan musik anak muda sering disebut dengan istilah jem-jeman tidak bisa diprediksi sebelumnya. Beberapa pengrawit pernah bilang bahwa yang penting dalam sajian gendhing Blendrong kulon ini rasanya gayeng, karena gendhing ini lebih sering disajikan untuk lenggeran. Artinya bahwa suasana sajian gendhing Blendrong kulon gaya Banyumas memang sengaja digarap sebagai gendhing lengger yang mengedepankan pada interaksi antara pengrawit, penari lengger dan penonton, sehingga suasana pertunjukan menjadi terasa hangat. Blendrong kulon adalah salah satu gendhing pavorit masyarakat seniman Banyumas, sehingga perkembangan garapnyapun relatif lebih dinamis dibanding dengan gendhing-gendhing yang lain.

3. Garap Gendhing Orek-0rek dalam Gamelan Calung

Supanggah (1983:1) berpendapat bahwa garap adalah suatu tindakan yang menyangkut imajinasi, interpretasi dan kreativitas; sebagai suatu hal yang menunjukkan kualitas hasil penyajian suatu karya seni. Dengan demikian garap adalah proses, yaitu proses membangkitkan dan mengungkapkan imajinasi, instrpretasi dan kreativitas tertentu dalam diri seorang seniman sehingga terwujudnya suatu bentuk sajian gendhing. Dalam membicarakan masalah garap gendhing Blendrong kulon akan mengarah pada dua jenis, yaitu jenis garap gendhing dan garap ricikan (instrumen).

4. Garap Ricikan

Garap ricikan yang dimaksud adalah tafsir pengrawit di dalam mengolah sajian cengkok atau pola-pola tabuhannya berdasarkan kemampuan kreatif seorang seniman. Dalam hal gendhing Blendrong kulon Banyumas, penulis telah mengamati pada beberapa kelompok karawitan di wilayah Banyumas. Pada beberapa pengendhang lengger telah banyak andil dalam merubah/mengkreasi garap tabuhan sebagian ricikan yang sengaja untuk memenuhi perbedaan pada garap-garap yang sudah dikenal. Beberapa ricikan yang dimaksud antara lain:

a. Garap Ricikan Kendhang

Kendhang dalam sajian gendhing Blendrong kulon merupakan salah satu jenis ricikan yang mempunyai peran sangat dominan dalam pembentukan karakter gendhing. Pembentukan karakter gendhing yang dimaksud adalah adanya kesan sajian yang ditimbulkan dari bertemunya berbagai aspek musikal atas dasar kemampuan pengrawit dalam menginterpretasi garap ricikannya atas dasar memori musical yang dimiliki dari pengalamannya melalui perjalanan kesenimanannya dari pentas ke pentas. Terkait dengan hal tersebut, seorang pengendhang disamping harus memiliki tingkat tafsir garap yang tinggi, serta kaya perbendaharaan sekaran juga dituntut untuk memiliki kemampuan imajinasi yang tinggi pula. Dalam sajian gendhing Blendrong kulon khsusnya tari Jalungmas, imajinasi pengendhang untuk bisa membangkitkan spirit (greget) biasanya lebih banyak dipengaruhi oleh gerak-gerak tari sunda Jaipong yang dipadukan dengan gerak tari lengger, sehingga bagi pengendhang yang terbiasa menyajikan gendhing-gendhing lengger akan lebih banyak variasi sekarannya jika di banding dengan pengendhang yang hanya mampu menyajikan pola-pola kendhangan jaipong saja. Dengan kata lain bagi pengendhang yang cukup memiliki bekal pengalaman panggung dipastikan akan lebih mampu menghidupkan suasana sajian gendhing.

b. Garap Ricikan gambang Calung.

Dalam sajian Blendrong kulon dikenal dua macam garap, yaitu garap imbal dan nglagu. Garap imbal adalah teknik garap instrumen gambang dengan menggunakan pola bergantian dua penabuh gambang yang mengacu pada seleh-seleh nada akhir setiap pertengahan gong atau gong kalimat lagu balungan. Adapun garap nglagu adalah teknik tabuhan gambang berdasarkan alur lagu vokal sindhenan. Dua variasi ini biasanya disajikan secara acak dengan berdasarkan mood pelaku atas interaksinya terhadap sajian ricikan yang lain.

c. Garap Sindhenan

Kami seorang pesindhen Banjarwaru menerangkan bahwa garap vokal sindhenan Blendrong kulon gaya Banyumas pada umumnya banyak memiliki kesamaan dengan sindhenan gendhing Banyumas yang lain, namun yang membedakan adalah pada wiledan dan aksennya ketika harus disajikan dengan garap Jaipongan[2]. Beberapa kesamaan yang dimaksud antara lain adanya unsur wangsalan, parikan dan isen-isen. Wangsalan adalah jenis syair berbentuk cangkriman (kuis) dengan jawaban sudah tersedia di antara bagian isi. Parikan adalah pantun dalam satu baitnya terdiri atas sampiran dan isi. Parikan terdiri atas dua jenis, yaitu jenis dua baris dan jenis empat baris. Isen-isen adalah frase-frase tertentu yang berguna untuk mengisi kekosongan pada bagian-bagian yang tidak diisi wangsalan atau parikan. Begitu pula yang semestinya terjadi pada penggarapan gerak tari Jalungmas.

Jika mencermati berbagai strategi/cara kreator dalam menggali serta mencipta ulang sebuah garapan baru seperti pada kasus di atas, dipastikan hasil karya yang diciptakan akan lebih bernilai jika diandingkan dengan hanya sekedar menata materi-materi yang ada di dalam memori. Dengan kata lain bahwa, prinsip-prinsip dasar sebagai seorang kreator adalah menyadari betul akan langkah-langkah kerjanya jika tujuan akhir yang diraihnya akan bermuara pada sebuah capaian karya seni dengan nilai estetika yang bermutu.

DAFTAR ACUAN

Pustaka

Dedi Supriadi

1994 Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan Iptek”. Bandung Alfabeta.

Sudarso

1999, Warna Banyumasan, Wetanan dan Kulonan dalam Garap Gendhing Unthuluwuk, Ricik-ricik, dan Bendrong kulon pada Gamelan Calung”, Skripsi. Surakarta: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta.

Rahayu Supanggah,

1983 ”Pokok-pokok Pikiran Tentang Garap” Kertas Kecil Untuk Diskusi Pengajar dan Mahasiswa ASKI Surakarta.

Nara Sumber

Kami 47 tahun, Seniman Lengger desa Banjarwaru, Nusawungu, Cilacap

Aton Rustandi, dosen etnomusikologi ISI Surakarta

Rasita Satriana, dosen etnomusikologi ISI Surakarta


[1].Ganjar Kurnia. 2003. Deskripsi kesenian Jawa Barat. Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat, Bandung.

[2] Wawancara tgl 21 Juli 2010

JALUNGMAS

SEBAGAI BENTUK KARYA BARU PERPADUAN DUA GAYA KESENIAN

BANYUMASAN DAN SUNDA

Oleh; Darno, S.Sen.,M.Sn

Pengantar

Jungmas adalah nama dari salah satu jenis seni pertunjukan yang ada di Kabupaten Cilacap. Jenis kesenian ini dikatagorikan sebagai bentuk kreasi baru, yang disusun melalui perpaduan antara tari dan musik tradisional yang ada di dua wilayah yakni Jawa Tengah (Cilacap) dan Sunda. Jalungmas merupakan akronim dari istilah kata jaipong calung Banyumas. Istilah ini diperkirakan lahir sekitar tahun 80-an, disusun oleh beberapa seniman Cilacap yang pada saat tersebut sedang melakukan pelatihan penggalian seni tradisional lokal sebagai sumber penciptaan karya tari baru. Tari jalungmas dicipta untuk memenuhi kebutuhan estetika tari lengger Banyumas dengan gamelan calung sebagai bentuk rekaan yang mamadukan dua genre kesenian Lengger Calung (Banyumas) dan Jaipong (Sunda). Tari Jalungmas lebih menitik beratkan pada dua aspek penggarapan, yakni gerak tari yang mengadopsi dari gaya tari jaipong dan gendhing tradisional gaya Banyumas yang disajikan dengan idiom gamelan calung Banyumas.

Kesenian Lengger Calung adalah penyatuan gerak tari, tembang dan gendhing tradisi gaya Banyumas yang diwujudan ke dalam karya seni pertunjukan dengan memiliki spesifikasi bentuk garap yang khas berbeda dengan kesenian yang sejenis seperti lengger, ronggeng Jawa Barat dan yang lainnya. Perbedaan yang dimaksud adalah pada aspek-aspek penggarapannya meliputi gerak tari, sajian musikalitas gamelan, lagu (tembang), dinamika serta struktur sajiannya.

Perkembangan Kesenian Lengger Calung Banyumas

Dewasa ini kesenian Lengger Calung Banyumas telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan lengger Calung tidak saja berpusat pada aspek garap yang bersifat local, namun dalam pertumbuhannya telah merambah pada wilayah genre jenis kesenian lain yang dimungkinkan terjadi atas pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan selera baik penikmat maupun pelaku seni itu sendiri. Pertimbangan atas dasar kebutuhan penikmat atau masyarakat dapat mempengaruhi bentuk kesenian Lengger Calung bergeser menjadi bentuk yang berbeda dari sifat yang khas menjadi warna “baru”. Namun demikian jika upaya tersebut tidak didasari atas pertimbangan niali estetik lokal (gaya genre tertentu), hal ini justeru dapat menjadi bumerang bagi sebuah identitas kesenian daerah termasuk dalam hal ini Lengger Calung Banyumasan.

Upaya perwujudan baru dari sebuah perkembangan seni tradisi jika dilakukan dengan mengacu pada pertimbangan nilai estetika serta kearifan lokal dapat dimungkinkan karya seni tersebut mampu abadi hidup di tengah-tengah masyarakatnya. Kemungkinan tersebut akan bisa dibuktikan ketika daya spirit serta karakter dari karya yang dicipta dapat berkomunikasi secara alami dengan lingkungan pendukungnya. Beberapa aspek penting sebagai prinsip sebuah penciptaan karya seni jika benar-benar telah dipenuhi estetikanya tanpa ada rekayasa yang dipaksakan, pastilah karya tersebut akan mampu hidup secara harmonis ditengah-tengah masyarakatya. Jalungmas adalah bagian dari proses pertumbuhan seni tradisi Banyumas, yang diwujudkan secara disengaja sebagai upaya untuk mendinamisasikan serta melestarikan kesenian tradisional Banyumas. Ketika proses penciptaan tari Jalungmas yang mengacu dari kesenian Lengger, maka hal-hal yang perlu digali sebagai materi dasarnya adalah aspek-aspek baku yang melekat pada kesenian Lengger Calung seperti, gerak, tembang, gendhing, serta dinamikanya. Namun jika aspek-aspek dasar lebih ditekankan (dipertebal) dari aspek genre kesenian gaya lain, maka dimungkinkan kesenian Jalungmas tidak akan mampu tumbuh berkembang di tengah-tengah masyarakat pendukungnya.

Sebelum membahas lebih jauh tentang kesenian Jalungmas di Kabupaten Cilacap, terlebih dahulu kita ajak untuk menengok jenis kesenian tradisional yang ada diwilayah sunda (Jawa Barat) yakni seni Jaipong. Jaipong atau sering disebut dengan istilah Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan[1].

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.

Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Lengger) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Lengger). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Lenggeran dan Pencak Silat.

Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.

Perkembangan Jaipong

Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari “Daun Pulus Keser Bojong” dan “Rendeng Bojong” yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.

Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya “kaleran” (utara).

Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).

Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.

Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni

Setelah mencermati kedua genre kesenian tradisional Lengger Calung Jawa Tengah (Banyumas) dan Jaipong Sunda (Jawa Barat) yang dipaparkan di atas, maka jika kita kembali lagi ke topik awal kesenian Jalungmas yang dinyatakan sebagai kesenian khas Kabupaten Cilacap, tentu menjadi sangat menarik untuk dibahas lebih dalam, lewat forum diskusi yang lebih serius. Ada dua permasalahan dalam kasus ini yakni:

1. Mengapa Jalungmas diakui sebagai kesenian khas Kabupaten Cilacap?

2. Bagaimana strategi penciptaan seni Jalungmas dibentuk oleh seniman Cilacap?

Pembahasan

Kesenian daerah sangat terikat pada bagimana pendukungnya menempatkan kesenian tersebut pada posisi tertentu sehingga kondisi / karakter pendukung menentukan bagemana perkembangan kesenian daerah. Konteks sosial budaya dan ekonomi politik merupakan faktor yang menentukan bagemana pendukungnya melihat kesenian lokal dan cara memperlakukannya dalam berbagai proses komunikasi. Karakter manusia yang berorientasi global, misalnya mempengaruhi bagaimana ia melihat dan memperlakukan yang lokal khususnya dalam hubungannya dengan yang global. Lokalisasi itu sendiri itu memiliki karakter yang berlainan dengan globalitas yang membutuhkan konversi dalam interaksi satu dengan yang lain, yaitu untuk pembentukan satu sistem yang cenderung global.

Perubahan konteks globalisasi karena selain menjadi faktor penting dalam artikulasi dan perubahan lokalitas (dalam hal ini kesenian tradisional gaya Banyumas), juga menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sesuatu yang lokal. Apakah yang lokal dapat survive dalam arus global, apakah ada pembagian ruang, yang mana yang diisi oleh globalitas dan mana yang lokalitas; dan apakah terjadi penyasuaian lokalitas dalam interaksinya dengan globalitas. Dalam kaitan ini akan dilihat interaksi kesenian daerah dan masyarakatnya. Untuk itu, sejumlah domain kahidupan sehari-hari seperti kegiatan dalam rumah tangga tempat kerja, pasar, sekolah, kegiatan upacara, orang punya hajat telah dipilih sebagai acuan pembahasan.

Jalungmas sebagai topik bahasan dalam diskusi ini, apakah dewasa ini Jalungmas telah terlihat mampu memposisikan dirinya sebagai jenis kesenian yang sudah diakui dan dapat berinteraksi dengan masyarakatnya? Apakah Jalungmas juga telah mempresentasikan sifat dan karakteristik dari nilai-nilai budaya lokal masyarakat Cilacap? Dan apakah penting hal ini bagi masyarakat Cilacap? Lepas dari persoalan penting atau tidaknya konsep tersebut, setidaknya sebagai seniman yang berniat untuk mencitrakan sebuah identitas budaya lewat karya baru, seyogyanya seorang kreator terlebih dahulu mengerti prinsip-prinsip dasar sebuah penciptaan karya. Prinsip dasar yang dimaksud di sini adalah sebuah konsep berpikir untuk mendasari dirinya sebagai seorang kreator seni yang memiliki tingkat kepekaan, intelektual serta kepedulian terhadap lingkungan di sekitarnya. Seorang kreator seni adalah pekerja seni yang beraktivitas pada wilayah ruang yang sangat abstrak. Maka jika tidak memiliki tingkat imajinasi yang tinggi terhadap nilai-nilai seni terutama yang bersifat lokal, dapat dipastikan temuan-temuan ciptaannya tidak akan memiliki kekuatan apa-apa terhadap lingkungannya.

Berbicara tentang kreator adalah juga menyangkut persoalan kreativitas. Kreativitas bagi seorang kreator seni adalah bekerja untuk mewujudkan ide dan gagasannya ke dalam karya baru melalui cara kerja yang sistematik yaitu meramu bahan-bahan yang sudah ada menjadi wujud baru melalui konsep kerja yang dinamakan garap. Garap yang dimaksud pada pembahasan ini adalah sikap dan atau cara kerja seorang kreator seni di dalam mengolah bahan baku menjadi karya baru yang diwujudkan ke dalam karya seni yang dalam bahasan ini dinamakan Jalungmas. Aspek-aspek yang diperhatikan oleh kreator adalah sumber yang jelas, yakni berupa materi baku seperti gerak tari lengger, gendhing, tembang dan idiom gamelan Calung. Ketika seorang kreator telah benar-benar cermat melihat secara esensial yang ada dalam aspek-aspek tersebut, maka langkah berikutnya adalah sikap kerja yaitu yang dinamakan ”meng-garap”.

Berikut di bawah ini adalah salah satu contoh bagaimana seorang kreator menggarap gendhing tradisi gaya Banyumasan dengan prinsip-prinsipnya sebagai langkah untuk menemukan bentuk karya musik baru Jalungmas.

2. Garap Gendhing

Pembicaraan mengenai garap gendhing paling tidak akan bersinggungan dengan beberapa unsur mulai dari laras, pathet, irama dan laya dalam perjalanan sajian gendhing dari awal sampai akhir (buka hingga suwuk). Irama sebagaimana pendapat Martopangrawit adalah urusan pelebaran dan penyempitan gatra. Laya atau tempo adalah cepat lambatnya perjalanan sajian gendhing yang ditentukan oleh matra pada tiap-tiap birama.

Gendhing Blendrong kulon pada umumnya disajikan dalam laras slendro pathet sanga. Irama yang digunakan dua macam yaitu irama I (lancar) dan II (dados). Dalam sajian gendhing Blendrong kulon biasanya digarap dengan menggunakan dua macam laya, yaitu laya tamban dan laya seseg. Laya cepat diterapkan pada sajian bagian awal serta bagian laya lambat digunakan pada bagian akhir dengan ditandai oleh permainan beberapa motif/pola kendhang jaipongan yang dipacu oleh melodi vokal, gerak tari srta struktur balungan gendhing. Pada sajian bagian akhir gendhing Blendrong kulon biasanya lebih mengutamakan interaksi yang bersifat spontan antara pengendhang dengan pembalung, sehingga bentuk-bentuk garap aksen atau dalam bahasa kalangan musik anak muda sering disebut dengan istilah jem-jeman tidak bisa diprediksi sebelumnya. Beberapa pengrawit pernah bilang bahwa yang penting dalam sajian gendhing Blendrong kulon ini rasanya gayeng, karena gendhing ini lebih sering disajikan untuk lenggeran. Artinya bahwa suasana sajian gendhing Blendrong kulon gaya Banyumas memang sengaja digarap sebagai gendhing lengger yang mengedepankan pada interaksi antara pengrawit, penari lengger dan penonton, sehingga suasana pertunjukan menjadi terasa hangat. Blendrong kulon adalah salah satu gendhing pavorit masyarakat seniman Banyumas, sehingga perkembangan garapnyapun relatif lebih dinamis dibanding dengan gendhing-gendhing yang lain.

3. Garap Gendhing Orek-0rek dalam Gamelan Calung

Supanggah (1983:1) berpendapat bahwa garap adalah suatu tindakan yang menyangkut imajinasi, interpretasi dan kreativitas; sebagai suatu hal yang menunjukkan kualitas hasil penyajian suatu karya seni. Dengan demikian garap adalah proses, yaitu proses membangkitkan dan mengungkapkan imajinasi, instrpretasi dan kreativitas tertentu dalam diri seorang seniman sehingga terwujudnya suatu bentuk sajian gendhing. Dalam membicarakan masalah garap gendhing Blendrong kulon akan mengarah pada dua jenis, yaitu jenis garap gendhing dan garap ricikan (instrumen).

4. Garap Ricikan

Garap ricikan yang dimaksud adalah tafsir pengrawit di dalam mengolah sajian cengkok atau pola-pola tabuhannya berdasarkan kemampuan kreatif seorang seniman. Dalam hal gendhing Blendrong kulon Banyumas, penulis telah mengamati pada beberapa kelompok karawitan di wilayah Banyumas. Pada beberapa pengendhang lengger telah banyak andil dalam merubah/mengkreasi garap tabuhan sebagian ricikan yang sengaja untuk memenuhi perbedaan pada garap-garap yang sudah dikenal. Beberapa ricikan yang dimaksud antara lain:

a. Garap Ricikan Kendhang

Kendhang dalam sajian gendhing Blendrong kulon merupakan salah satu jenis ricikan yang mempunyai peran sangat dominan dalam pembentukan karakter gendhing. Pembentukan karakter gendhing yang dimaksud adalah adanya kesan sajian yang ditimbulkan dari bertemunya berbagai aspek musikal atas dasar kemampuan pengrawit dalam menginterpretasi garap ricikannya atas dasar memori musical yang dimiliki dari pengalamannya melalui perjalanan kesenimanannya dari pentas ke pentas. Terkait dengan hal tersebut, seorang pengendhang disamping harus memiliki tingkat tafsir garap yang tinggi, serta kaya perbendaharaan sekaran juga dituntut untuk memiliki kemampuan imajinasi yang tinggi pula. Dalam sajian gendhing Blendrong kulon khsusnya tari Jalungmas, imajinasi pengendhang untuk bisa membangkitkan spirit (greget) biasanya lebih banyak dipengaruhi oleh gerak-gerak tari sunda Jaipong yang dipadukan dengan gerak tari lengger, sehingga bagi pengendhang yang terbiasa menyajikan gendhing-gendhing lengger akan lebih banyak variasi sekarannya jika di banding dengan pengendhang yang hanya mampu menyajikan pola-pola kendhangan jaipong saja. Dengan kata lain bagi pengendhang yang cukup memiliki bekal pengalaman panggung dipastikan akan lebih mampu menghidupkan suasana sajian gendhing.

b. Garap Ricikan gambang Calung.

Dalam sajian Blendrong kulon dikenal dua macam garap, yaitu garap imbal dan nglagu. Garap imbal adalah teknik garap instrumen gambang dengan menggunakan pola bergantian dua penabuh gambang yang mengacu pada seleh-seleh nada akhir setiap pertengahan gong atau gong kalimat lagu balungan. Adapun garap nglagu adalah teknik tabuhan gambang berdasarkan alur lagu vokal sindhenan. Dua variasi ini biasanya disajikan secara acak dengan berdasarkan mood pelaku atas interaksinya terhadap sajian ricikan yang lain.

c. Garap Sindhenan

Kami seorang pesindhen Banjarwaru menerangkan bahwa garap vokal sindhenan Blendrong kulon gaya Banyumas pada umumnya banyak memiliki kesamaan dengan sindhenan gendhing Banyumas yang lain, namun yang membedakan adalah pada wiledan dan aksennya ketika harus disajikan dengan garap Jaipongan[2]. Beberapa kesamaan yang dimaksud antara lain adanya unsur wangsalan, parikan dan isen-isen. Wangsalan adalah jenis syair berbentuk cangkriman (kuis) dengan jawaban sudah tersedia di antara bagian isi. Parikan adalah pantun dalam satu baitnya terdiri atas sampiran dan isi. Parikan terdiri atas dua jenis, yaitu jenis dua baris dan jenis empat baris. Isen-isen adalah frase-frase tertentu yang berguna untuk mengisi kekosongan pada bagian-bagian yang tidak diisi wangsalan atau parikan. Begitu pula yang semestinya terjadi pada penggarapan gerak tari Jalungmas.

Jika mencermati berbagai strategi/cara kreator dalam menggali serta mencipta ulang sebuah garapan baru seperti pada kasus di atas, dipastikan hasil karya yang diciptakan akan lebih bernilai jika diandingkan dengan hanya sekedar menata materi-materi yang ada di dalam memori. Dengan kata lain bahwa, prinsip-prinsip dasar sebagai seorang kreator adalah menyadari betul akan langkah-langkah kerjanya jika tujuan akhir yang diraihnya akan bermuara pada sebuah capaian karya seni dengan nilai estetika yang bermutu.

DAFTAR ACUAN

Pustaka

Dedi Supriadi

1994 Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan Iptek”. Bandung Alfabeta.

Sudarso

1999, Warna Banyumasan, Wetanan dan Kulonan dalam Garap Gendhing Unthuluwuk, Ricik-ricik, dan Bendrong kulon pada Gamelan Calung”, Skripsi. Surakarta: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta.

Rahayu Supanggah,

1983 ”Pokok-pokok Pikiran Tentang Garap” Kertas Kecil Untuk Diskusi Pengajar dan Mahasiswa ASKI Surakarta.

Nara Sumber

Kami 47 tahun, Seniman Lengger desa Banjarwaru, Nusawungu, Cilacap

Aton Rustandi, dosen etnomusikologi ISI Surakarta

Rasita Satriana, dosen etnomusikologi ISI Surakarta


[1].Ganjar Kurnia. 2003. Deskripsi kesenian Jawa Barat. Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat, Bandung.

[2] Wawancara tgl 21 Juli 2010

Hello world!

Welcome to Berpacu dlm Kreatifitas dan Prestasi. Ini adalah halaman pertama posting. Revisi atau hapus halaman ini, kemudian silahkan ngeblog dan saatnya ISI Surakarta mendunia lewat dunia maya….

UPT. Pusat Informatika (PUSTIKA) ISI Surakarta