Ricik-ricik Banyumasan dan Perkembangannya

Ricik-ricik merupakan salah satu jenis gending tradisi Banyumas yang sangat populer baik di dalam maupun di luar karesidenan Banyumas.  Popularitas sajian gending-gending Banyumasan tidak terlepas dari keterlibatan para  pendukung baik  seniman ataupun masyarakatnya. Ricik-ricik sebagai salah satu gending yang peringkat kepupulerannya di atas gending-gending tradisi Banyumas yang lain, tidak lain karena adanya beberapa unsur yang terkandung dalam garap khas yang ada di dalamnya.   Hal yang menarik dari sajian gending Ricik-ricik adalah mempunyai ragam garap yang multi kultur, dimana unsur-unsur vokabuler garap gaya di luar locus Banyumas telah menjadi sajian umum baik yang dilakukan oleh pelaku seniman Banyumas maupun di luar Banyumas.  Dari keseluruhan garap yang tersaji pada gending Ricik-ricik, salah satu unsur yang telah banyak dilirik oleh beberapa seniman adalah vokal.  Beberapa upaya penggarapan vokal dengan mencoba merubah menurut selera si komponis telah menjadi wacana kearah kepopuleran gending tersebut.  Memang tidak salah.  Namun apakah sudah disadari bahwa dari akibat kekurang hati-hatian dalam melakukan perubahan bakal terjadi sebuah dilematik ? Sebagian fihak tertarik akan suatu kebaruan kalaupun sadar betul bahwa terdapat penurunan nilai esensi yang sangat signifikan.  Tetapi banyak juga fihak yang merasa tidak rela dengan terkikisnya secara perlahan-lahan atas nilai estetik etnik yang menjadi semakin kabur.

Jika kita terlatih untuk menyimak secara cermat dengan pemahaman tentang garap gending pada setiap gaya yang paling esensial, tentu merasakan perbedaan yang paling berarti bagi kekhasan yang dimiliki oleh gending Ricik-ricik, terutama dengan perbandingan gending Ricik-ricik yang berkembang dewasa ini.  Sebagai contoh misalnya, pada awal sajian vokal sindenan tunggal dalam irama satu (lancar) sindenan yang disajikan disamping dengan vokal tunggal, ia masih menggunakan teks (cakepan) gawan (bawaan) gending Ricik-ricik yang tidak terdapat dalam sajian gending lain.  Cakepan Ricik rinjang ranjang arang penyawuk walang – Pangling wonge nora pangling sewarane, adalah cakepan dan cengkok sindenan yang paling penting di dalam sajian gending Ricik-ricik.  Karena kesatuan cengkok (kalimat lagu) dengan teks serta persenyawaan dari keseluruhan komposisi musikalnya membawa nuansa yang khas gaya Banyumas ke dalam karakter sajian gending Ricik-ricik.  Begitu pula dengan pola serta sekaran kendangan yang mengimajimanasikan pada gerak tari lengger yang bernuansa kerakyatan Banyumas, tidak bisa ditipu lagi dengan bunyi sekarang yang lain terutama dengan bentuk seni rakyat yang sejenis.

Gending Banyumas secara umum telah banyak mengalami perubahan garap.  Perubahan garap yang telah terjadi pada gending Ricik-ricik merupakan hasil rekayasa seniman atas  imajinasi secara individu terhadap sesuatu yang telah ada, merasa perlu untuk disempurnakan lebih lanjut dengan daya tafsir yang berbeda. Atas dasar pertimbangan tersebut, muncul beberapa hasil aransmen gending Ricik-ricik yang sudah dinikmati oleh masyarakat di luar wilayah Banyumas, dengan sajian yang jauh berbeda dari keasliannya. Dengan demikian masyarakat menentukan pilihannya mana yang mudah ditiru dan paling populer menurut zamannya. Sebuah kenyataan dalam dunia tradisi bahwa ketika ada fenomena yang menjadi poluler pada suatu perubahan akan menjadi tolok ukur yang menurutnya dianggap sesuatu yang paling baik.  Ki Nartosabdo misalnya..,  beliau adalah seorang komponis yang mengawali perubahan terhadap garap gending Ricik-ricik Banyumasan. Beliau adalah seorang seniman pengrawit dan dalang wayang puwa tradisi yang  berada di wilayah gaya Surakarta, ia mempunyai berbagai keakhlian dan keberanian untuk membrontak, mendobrak garap kesenian tradisi baik karawitan maupun wayang purwa. Pada awal tahun 80-an gending Ricik-ricik mulai merambah ke luar wilayah karsidenan Banyumas, adalah tidak lain karena adanya faktor peran Nartosabdo di dalam mempublikasikan melalui medium seni pertunjukan pakeliran wayang purwa. Pada saat itu beliau mencoba menawarkan garapan baru dengan mengaransmen gending Ricik-ricik menurut pendekatan berbagai ragam garap terutama gaya Surakarta.  Hal tersebut terbukti pada bagaian garap vokal dan kendang, beliau banyak mengaplikasikan vokabuler-vokabuler garap instrumen gamelan jawa yang lazim disajiakan dalam sajian gending-gending gaya Surakarta.

Jika kita benar-benar memehami garap gending dari suatu etnik tertentu dan diakui keabsahannya sebagai gaya yang khas dari sajian gending tradisi, rasanya sangat disayangkan ketika tiba-tiba muncul garapan baru yang kurang mempertimbangkan dampak perkembangannya. Karena banyaknya kekayaan ragam garap dalam setiap gaya menjadi hilang dan tidak dikenal lagi oleh masyarakat secara umum. Ki Nartosabdo yang mempunyai basic karawitan gaya Surakarta memang kreatif, telah banyak merubah garap gending-gending Banyumas dan juga gaya lain, Sehingga banyak mempengaruhi kelompok karawitan lain tentang pemahaman garap  ke arah yang sebenarnya kurang apdol.

Perlu diketahui secara mendalam bahwa kekuatan garap pada masing-masing gaya adalah meliputi berbagai unsur, baik yang tersaji lewat instrumen maupun vokal.  Unsur-unsur penting yang perlu difahami sebagai wacana pengetahuan garap yang membedakan setiap gaya adalah; bisa bersifat teks (cakepan), pola kendangan, tekhnik tabuhan seperti instrumen bonang  dan juga cengkok sindenan.  Ketika semua ini telah difahami secara sadar sebagai faktor penentu garap setiap gaya, maka tidak akan terjadi pergeseran secara total yang akhirnya mengurangi nilai estetik yang dianggap sebagai esensial dari sajian sebuah gending tradisi.

Namun demikian ibarat nasi sudah menjadi bubur, gending Ricik-ricik sudah populer ke seluruh wilayah jawa tengah dengan mengkiblat dari versi Nartosabdo.  Apakah yang menarik dari gubahan Nartosabdo terhadap gending Ricik-ricik sehingga lebih diminati oleh sebagian para pengrawit di jawa tengah? ….. jawabnya belum jelas. Ada yang mencoba menduga tentang  kemungkinan pengaruh versi Nartosabdo yakni tentang penyederhanaan sajian sehingga menjadi mudah ditirukan oleh banyak orang.  Itu mungkin saja.,  Karena memang secara jelas bahwa perangkat garap yang ditawarkan oleh Nartosabdo adalah unsur-unsur garap karawitan gaya surakarta yang secara umum telah fahami dan dikuasai oleh sebagian pengrawit tradisi baik yang ada di luar maupun di dalam wilayah karesidenan Banyumas itu sendiri.  Contoh kecil tentang penyederhanaan garap pada instrumen kendang misalnya.  Bagaimana beliau banyak menerapkan pola-pola kendangan pematut dimana ia ambil dari vokabuler cengkok kendangan tradisi gaya Surakarta kedalam sajian gending Ricik-ricik irama dados, sehingga oleh pengrawit yang faham betul tentang keaslian cengkok kendangan dari mana ia berada, akan segera menyatakan bahwa itu bukan garap khas gaya Banyumasan.  Hemat kata dengan disederhanakannya garap kendangan melalui sekaran pematut mengakibatkan pemiskinan ragam gaya yang semestinya menjadi kekayaan garap pada setiap musik tradisi. Contoh lain yang juga menjadikan kekacauan pemahaman tentang keragaman adalah penggarapan vokal.  Kalau di atas tadi dijelaskan secara gamblang apa yang paling prinsip dalam sajian gending adalah sesuatu yang khas dengan kekuatan antara cengkok sindenan dan teks yang diambil dari bahasa-bahasa keseharian masyarakat Banyumas, maka ketika Nartosabdo merubah cengkok dan teks dari bahasa di luar Banyumas tentu menjadi problem musikal.  Karena materi yang penggarapan yang menghubungkan antara sajian musikal dan budayanya menjadi tidak menyatu.    Garap vokal dengan disajikan secara koor juga menjadi keasingan bagi masyarakat banyumas.  Pesinden Banyumas tidak mengenal sajian vokal koor.  Vokal sindenan banyumas tidak pernah dinotasikan, sehingga tidak pernah ada keseragaman dan kerapian dalam sajian gending-gending tradisi Banyumas pada masa kejayaannya.

Perubahan yang telah terjadi dari sajian vokal (sindenan) atas gubahan Nartosabdo adalah memasukkan sajian vokal koor pada irama lancar dengan cakepan Ricik kumricik grimise wis teka sedela maning dan sebagainya. Adalah model-model garap yang sangat rapi serta sudah lazim diterapkan dalam vokal gerong pada gending-gending gaya Surakarta.  Sehingga tidak mustahil ketika kemudian dengan cepat diikuti oleh banyak vokalis dalam komunitas 
pengrawit di luar wilayah Banyumas.

Perubahan mesti terjadi ketika tuntutan zaman menghendakinya.  Fenomena tersebut di atas adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.   Nartosabdo adalah salah satu seniman yang dianggap paling cepat merespon kondisi zaman.  Awalan yang berhasil bagai dunia perkembangan musik tradisi, walaupun telah terjadi pro dan kontra. Artinya setelah populernya sajian gending Ricik-ricik versi Nartosabdo masuk ke wilayah pengrawit Banyumas, muncul garap lain versi Rasito seorang seniman pengrawit setingkat empu Banyumas dengan bentuk garap yang sejenis seperti meniru memasukannya vokal koor yang diambil dari bahasa banyumas, dan garap slawatan versi S. Bono.

Dampak perubahan

Ketika imbas dari perubahan yang ditawarkan oleh Nartosabdo merambah ke dunia akademik tentu akan menjadi lain.  Karena dunia akademik adalah sebagai lembaga yang salah satunya mempunyai visi kearah pencerdasan pikir dan kepekaan rasa.  Sehingga akan disikapi secara hati-hati dengan pertimbangan berbagai aspek yang salah satunya tidak mebodohkan masyarakat serta memiskinkan ragam garap yang menjadi kekayaan gaya musik di seluruh pelosok tanah air.

Sebagai usaha pemunculan kembali dalam bentuk lain terhadap sajian gending Ricik-ricik, telah dilakukan Darno salah seorang pengajar di STSI Surakarta jurusan karawitan.   Upaya yang dilakukan olehnya merupakan respon dari kekacauan yang terjadi pada garap sajian gending-gending Banyumasan secara umum dewasa ini.   Salah satu akibat dari kekacauan yang lebih parah terjadi pada sajian gending-gending Banyumasan adalah pada gending Ricik-ricik.  Bentuk sajian ini akan dicoba untuk lebih memfokuskan pada garap vokal dan perangkat gamelan Calung.  Dengan pertimbangan bahwa vokal-vokal yang telah diaransmen oleh beberapa seniman terdahulu terlihat belum mampu mengoptimalkan seluruh wilayah nada, sehingga tidak tampak secara jelas teks-teks apa yang disampaikan.  Cara lain yang dilakukan untuk mengoptimalkan sajian vokal agar tersaji secara jelas yakni penyusun menncoba menggunakan pendekatan garap yang telah lazim diterapkan oleh para aranger ketika membuat vokal paduan suara.  Salah satu dari kelebihan cara tersebut adalah adanya pemisahan jenis-jenis wilayah ambitus manusia yang terbagi menjadi suara tenor, sopran dan bas, sehingga tidak akan lagi terjadi pemaksaan diluar kemampuan masing-masing vokalis.

Pertimbangan lain yang menjadikan pijakan karya ini adalah selain memanfaatkan gamelan calung sebagai medium utama calung juga sebagai salah satu perengkat gamelan Banyumas yang paling populer.  Gamelan calung lebih disikapi sebagi medium bunyi, kalaupun dalam penggarapannya akan terlihat secara jelas gaya Banyumas tidak lain semata-mata merupakan refleksi penggarap yang dilatar belakangi dari kemampuannya dalam menyajikan gending-gending tardisi gaya Banyumas.  Karya ini dibuat pertama kali untuk mengikuti festival paduan suara se Indonesia di Uneversitas Parahyangan Bandung tahun 2002 dan festival paduan suara sedunia di Landratsamt Miltenberg Jerman bulan juli tahun 2002.